Makalah Bab II Atresia Ani

BAB II TINJAUAN TEORITIS
1.Tinjauan Teoritis Medis
A.Defenisi
Atresia ani berasal dari kata yunani, artinya tidak ada. Atresia artinya nutrisi atau makanan. Dalam istilah kedokteran atresia itu sendiri ialah keadaan tidak adanya atau tertutupnya lubang badan normal atau organ tubuler secara congenital di sebut jug klausura.
Dengan kata lain tidak adanya lubang di tempat yang seharusnya atau buntutnya saluran atau rongga tubuh. Hal ini bisa terjadi karena bawaan sejak lahir atau terjadi kemudian karenaproses penyakit yang mengenai saluran itu. Atresia ani yaitu tidak berhubungnya dubur. Atresia ani memiliki nama lain yaitu imperforata.

Imperforata anus adalah tiak komplit perkembangan embrionik pada distal usus (anus) atau tertutupnya anus secara abnormal.

Colostomy adalah fistula yang di buat dengan pembedahan di antara kolon dan permukaan abdomen, fistula ini berfungsi sebagai anus artificial. Colostomy adalah pembuatan lubang atau (stoma) pada kolon secara bedah.
B.     Etiologi
Atresia ani dapat di sebabkan oleh bebrapa factor yaitu :
1.      Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan daerah dubur sehinng bayi lahir tanpa lubang dubur .2.      Kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12 minggu/ 3 bulan.
3.      Adanya gangguan atau berhentinya perkembangan embriologik di daerah usus, rectum bagian distal serta traktur urogenitalis yang terjadi antara minggu ke empat sampai kanan usia kehamilan. Tanda dan Gejala
Ø  Mekonium tidak keluar dalam waktu 24-48 jam setelah lahir
Ø  Tinja keluar dari vagina dan uretra
Ø  Perut mengembung
Ø  Muntah
Ø  Tidak bisa buang air besar
Ø  Tidak ada anus
Ø  Pada atresia ani letak rendah mengakibatkan distensi perut, muntah, gangguan cairan elektrolit dan asam basa.

C.     Pemeriksaan diagnostic
Ø  Pemeriksaan fisik : kepatenan rektal dapat di lakukan dengan colok dubur dengan menggunakan sekang / jari.
Ø  Ultrasol dan Ctscan untuk menentukan lesi.

D.    Penatalaksanaan Medik
Ø  Kolostomi
Kolostomi ialah fistula yang di buat degan pembedahan di anatara kolon dan permukaan abdomen, fistula ini berfungsi sebagai anus artificial atau pembuatan lubang/stoma pada kolon secara bedah.

E.     Komplikasi kolostomy
Ø  Prolaps stoma ( bias any akibat obesitas )
Ø  Perforasi ( aibat ketidak tepatan irigasi stoma )
Ø  Retraksi stoma
Ø  Infeksi fekal
Ø  Iritasi kulit

1.2 Tinjauan Keperawatan
1.2.1 Pengkajian

A.Gastrointestinal
1.warna colkelat atau hijau kecoklatan pada feses
2.Konsistensi normal
B.Integumen
      1.Warna pink muda atau merah pucat pada kulit daerah stoma
      2.Kondisi kulit daerah sekitar stoma

1.2.2  Diagnosa Keperawatan
    1.Gangguan integritas kulit b/d kulit tepapar feses
    2.Resiko infeksi b/d kontaminasi sayatan ( luka bekas operasi ) dengan feses
    3.Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d colostomy dan ileustomy
    4.Resiko tinggi diare
    5.Gangguan citra tubuh
    6.Nyeri b/d insisi pembedahan

3. Perencanaan
   1.Gangguan integritas kulit berhubungan dengan kulit terpapar feses
   Kriteria hasil : Anak tidak menunjukkan tanda-tanda gangguan integritas kulit dibuktikan   dengan kulit
Intervensi :
    I : Katakan kepada orangtua ( anak bila diperlukan ) untuk menggunakan kantong
  colostomy secara banar( tepat) dan aman untuk kulit, dengan kulit penghalang
  seperti : (Holihesive,stomahesive atau comfed ).
    R: Menggunakan kantong dengan sesuai dengan benar, dapat menjadi penghalang 
  yang efektif untuk melindungi kulit dan efek leustik feses.Seoran terapis dapat
  menasehati orangtua tentang produk mana yang paling sesuai dengan kebutuhan
  anak.popok tanpa kantung kulit biasanya menyebabkan kerusakan kulit.

  I : Ajarkan orangtua mengenai pentingnya pengosongan kantung colostomy ketika
sudah terisi seperempat atau sepertiga bagiannnya.
  R : Membiarkan kantong terlalu penuh dapat meningkatkan resiko kebocoran pada
   kantong
  I : Katakan kepada orangtua untuk mengganti kantong colostomy sekurang 
   kurangnya setiap 24 jam sampai kulitnya sembuh.
   R : Perubahan yang terjadi memungkinkan untuk sering dilakukaknya observasi dan pengobatan bila perlu.

   I : Ajarkan orangtua cara membersihkan kulit sekitar stoma, dengan menggunkan air atau larutan garam normal.
   R : Menghapus fese dari dari permukaan kulit dapat mencegah infeksi
   I : Apakah terjadi kerusakan kulit  ( ditandai dengan kemerahan atau luka ),
  anjurkan orangtua untuk merawat kulit dengan menggunakan metode dan obat-
  batan yang dipesankan dokter , enteroskomal terapis, perawatan colostomy.
   R : Tingkat kerusakan sulit menentukan perawatan khusus yang diperlukan.

2. Resiko infeksi b/d kontaminasi sayatan ( luka bekas operasi ) dengan feses
Kriteria hasil : anak akan tetap bebas dari infeksi, dibuktikan dengan dapat  mempertahankan suhu normal dan tidak memiliki tanda – tand edema, indurasi, dan sayatan 

Intervensi:
I : Anjurkan orangtua, ( Anak, bila diperlukan ) untuk mengganti kantong ostomy seiap hari sampai luka operasi penuh ( bila menutupi luka ). Katakan kepada orangtua untuk mengubah ostomy segera bila bila terdapat kebocoran ( khususnya penting bila penghalang dan tas kulit, sebagian atau lengkap menutup luka.

R : Penggantian secara intim memungkinkan Pengamatan luka terhadap tanda-tandakontaminasi dan infeksi.kebocoran berkepanjangan menyebabkan kontak kulit dengan feses, dapat menyebabkan kerusakan kulit dan infeksi.
I : Berikan orangtua memahami bahwa mereka harus menilai luka  operasi untuk tanda-tanda infeksi, termasuk kemerahan,gangguan kulit,bernanah,drainase dan peningkatan suhu tubuh, setiap kali mereka mengganti tas.
R : Penilaian secara teraturkemungkinana dalam dini, dan pengobatan cepat terhadap infeksi.
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d kolostomy
Kriteria hasil : Anak mempertahankan asupan gizi yang memadai, dibuktikan dengan makan sebanyaknya 80 persendari semua makanan.

Intervensi:
I : Instruksikan orang tua untuk melayani anak, untuk sering makan
R: Melayani anak sering makan, menjamin bahwa anak menerima gizi yang memadai stanpa onefiling pada perutnya.
I :Menekankan pentingnya membatasi atau menghindari makanan dari makanan yang menyebabkan gas atau diare, termasuk nkubis,makanan pedas,kacang-kacangan buah – buahan atau jus buah.
R : Membatasi atau menghilangkan makanan ini, membantu mencegah gas yang dapat menyebabkan distensi dan minat makan berkurang.
4. Resiko tinggi diare / konstipasi
Kriteria hasil : Anak memiliki eliminasi usus normal, dibuktikan oleh gerakan usus halus dan kurangnya rasa sakit selama eliminasi.
I   : Katakan kepadaorangtua untuk menangani colostomy pada pagi hari
R : Irigasi pada pagi hari, berfungsi untuk mengosongkan usus dan membantumencegah konstipasi di kemudian hari.
I   : Memberikan diet fungsi serat
R : Diet tinggi serat meningkatkan massa feses dan membantu mencegah sembelit
I   : Tingkatkan asupan cairan anak, seperti yang diinstruksikan
R : Peningkatan asupan cairan meningkatkan kadar air pada feses dan mempromosikan eliminasi normal.
5. Gangguan citra tubuh b/d colostomy atau ileustomy
Kriteria hasil : Anak menunjukkan peningkatan konsep diri, dibuktikan dengan berbicara tentang colostomy mengganti kantong dan menunjukkan meningkatkan minat dalam perawatan diri.

Intervensi :
I : Dorong anak untuk berpartisipasidalam perwawatan diri, menasehatinya untuk mengganti, atau membilas kantong kolostomy ( setidaknya sekali sehari) untuk mencegah bau.
R : Dorongan semacam uterus mendorong minat dalam kebersihan dan penampilan pribadi, membantu untuk memperbaiki konsep diri anak.Mengganti atau membilas kantong ostomy sehari- hari  untuk mencegah bau busuk yang dapat membuat anak sadar dini.
I : Mendorong anak mengungkapkan perasaanya
R : Memberikan anak mengungkapkan  perasaanya membantu dia menghadapi citra tubuh yang berubah tanpa takut ditolak.
I : Mendorong anak untuk bergabung bersama anak dengan umur yang sesuai dengan kelompok pendukung ostomy
R : Mempromosikan dukungan kelompok meningka, kan penerimaan dan memungkinkan anak untuk bagi pengalaman dengan orang lain.
6. Nyeri b/d insisi pembedahan
Kriteria hasil :  - Anak menyatakan nyeri hilang ( terkontrol )
-Anak mampu beristirahat
Intervensi :
 I : Kaji nyeri , catat lokasi, karakteristik, Intensitas ( 0 – 10 )
R : membantu mengevaluasi derajat ketidaknyaman dan ketidakefektifan  analgesic atau dapat mnytakan terjadinya komplikasi.
I : Dorong pasien untuk mengatakan masalah.Mendengarkan dengan aktif dan memberika dukungan dengan penerimaan mengingat pasien dan memberikan informasi yang tepat.
R : menurunkan ansietas / takut dapat meningkatkan relaksasi
I : Berikan tindakan kenyamanan  ( Mis : perwatan mulut, pijatan punggung, ubah posisi yakinkan pasien bahwa : perubahan posisi tidak akan menciderai stoma
R : mencegah terjadinya penyaringan mukosa oral dan ketidaknyamanan, menurunkan lengan otot, meningkatkan relaksasi, dan dapat meningktakan relaksasidan dapat meninggkatkan kemampuan koping.
I   : Hindari mempalpasi daerah stoma
R  : Penekanan dapat meningkatkan nyeri.

BAB III TINJAUAN KASUS
 III.            RIWAYAT KELAHIRAN
Pada kehmilan pertama si ibu melahirkan seorang anak perempuan yang sekaran telah berusia 6 Tahun dan lahir secara spontan tanpa bantuan bidan hanya di bantu oleh dukun beranak.
Setelah kehamilan ke-2 si Ibu melahirkan anak perempuan yang sekarang telah berusia 6  bulan dan lahir secaraspontan dengan bantuan bidan dan dukun beranak.

 IV.            PEMERIKSAAN HEAD TO TOE
1.      Rambut dan kulit kepala
Rambut anak dalam keadaan bersih dan menutupi seluruh bagian kulit kepala. Kulit kepala juga dalam keadaan bersih
2.      Kepala dan leher
a.       Kepala
Bentuk kepala bulat dan pontanel posterior dan anterior sudah menutup. Sutura sudah menyatu.b.   Leher
Bentuk leher pasien simetris dan tidak ada pembengkakakan. Kepala dapat di gerakkan dengan bebas dan tidak ada nyeri atau tahanan. Trachea berada di garis tengah dan tidak ada pembengkakan ataupun nyeri tekan. Tekanan vena jugularis normal.
c.    Telinga
Pada aurikel telinga tidak ada lesi ataupun peradangan. Serumen ada hanya dalam batas normal. Tidak ada peradangan pada telinga dan fungsi pendengaran pasien baik yaitu dapat menoleh ketika nama pasie di panggil.
d.   Mata
Fungsi penglihatan anak baik, yaitu bila di perlihatkan suatu benda dengan jarak 2-3 meter dari anak maka anak berusaha untuk meraih benda tersebut. Tidak ada anemis pada konjungtiva dan tidak ada ikhterik pada sclera. Reflek cahaya normal dan iris dalam keadaa normal.
e.    Muka hidung dan mulut
1.   Roman muka   : wajah anak kelihatan murung karena dia merasa sakit
2.   Hidung                        : pada daerah hidung tidak ada nyeri. Fungsi penciumanya baik, anak dapat mencium bau ASI ibunya, mukosa hidung lembab, tidak ada perdarahan dan peradangan dan juda tidak ada polip.
3.   Mulut              : membrane mukosa bibir lembab, lidah pasien tidak ada kelainan dan tidak ada pembengkakan pada tonsil, gusi merah, dan anak belum mempunyai gigi, tidak ada kesullitan dalam menelan.
f.    Dada dan paru
1.   Paru     : thoraks simetris dan jenis pernapasanya torako abdominal, pola napas normal yaitu eupnea. Pada saat di palpasi tidak aa nyeri tekan dan ekspansi paru simetris. Traktil premitus normal. Pada saat di perkusi bunyinya normal dan batas paru dalam keadaan normal pada saat di auskultasi bunyi napas vesikuler dan tidak ada batuk.
2.   System kardiovaskular
Jantung    : ukuran jantung dalam keadaan normal tidak ada hipertropi, bunyi jantung BJ I & BJ II yaitu lup-dup. irama jantung regular dan tidak ada nyeri dada. System vaskulernya nadi radialis dan feriper sama.
g.      Abdomen
1.      Insfeksi           : pada saat inspeksi kuntur abdomen dalam keadaan rata dan tidak ada asites. Massa dan tumor, striae dan umbilicus dalam keadaan baik dan tidak ada peradangan . dan adanya stoma pada abdomen pada bagian kiri.
2.      Perkusi            : pada sat di perkusi bunyi abdomen timpani.
3.      Palpasi : pada saat di palpasi ada nyeri tekan karena ada bekas operasi.
4.      Auskultasi       : pada saat di auskultasi bising usus meningkat yaitu 24 x/i.
h.      System reproduksi
Pasien adalah seorang perempuan, payudara dan puting susu belum tampak, dan aerolanya tampak hitam kecoklatan. Tidak ada massa atu tumor di sekita bagian reproduksi dan labiya, klitorisnya dalm keadaan baik, dan tidak peradangan atau kemerahan. Uretra dan vagina dalam keadaa norma, tidak ada merah dan tidak ada odema.
i.        Ekstremitas
Ekstremitas atas    : kekuatan ototnya 4 yaitu dapat melawan tahanan dan bergerak bebas, infuse terpasang di tangan sebelah kiri.
Ekstremitas bawah            :kekuatan ototnya 4, yaitu dapat melawan tahanan  dan bergerak bebas, sedikit lemah. Tidak ada kelainan dan fraktur, paralisis.
 V.            POLA KEBIASAAN SAAT INI
A. Nutrisi
1. Sebelum masuk Rumah Sakit : pola makan pasien tidak teratur karena hanya dengan pemberian ASI pada anak, pemberian ASI di lakukan setiap anak menangis sehingga pemberian tidak teratur.
2. Sesudah masuk Rumah Sakit : pola makan pasien tidak teratur karena makananya hanya ASI dan di berikan setipa kali anak menangis dan kinginan untuk minum ASI kurang.
B. Eliminasi
1. Sebelum masuk Rumah Sakit
BAB : ibu mengatakan dia tidak mengetahui berapa kali anaknya BAB dalam satu hari.
BAK : frekuensinya 6-7 x/hari
2. Sesudah masuk Rumah Sakit
BAB : anak BAB lebih kurang 5-6 x/hari dengan konsistensi cair, warnanya kuning dan tidak ada kelainan.
BAK : anak BAK 6-7 x/ hari dengan konsistensi cair dan warnanya kuning jernih dan tidak ada kelainan.
C. Pola istirahat
1. Sebelum masuk Rumah sakit
Sebelum masuk Rumah Sakit anak selalu tidur siang pukul 11.00 s/d 14.00 wib. Untuk tidur malam pukul 20.00 s/d 06.00 wib.
2. Sesudah masuk Rumah Sakit.
Sesudah masuk Rumah Sakit tidur siang anak pukul 10.00 s/d 14.00 wib dan pada malam hari tiurnya pukul 20.00 s/d 06.00 wib. Untuk masalah tidurnya anak sering terganggu karena adanya pemberian injeksi dan nyeri yang terkadang timbul.
D. Pola aktifitas
1. Bermain : anak hanya bermain di Rumah dan di temani kakaknya.
2. Sekolah : anak belum sekolah
VI. Pola kebersihan Tubuh
Anak di mandikan 2 x/hari oleh ibunya, anak belum bisa goso gigi karena belum mempunyai gigi dan cuci rambut di lakukan 2 x/ hari stiap anak di mandikan oleh ibunya. Potong kuku di lakukan 1 x/ minggu.
VII. Pengetahuan orang tua tentang kesehatan
a. Makanan untuk anak 
Makan yang di berika untuk anaknya adalah ASI
b. Sebab-sebab penyakit 
Ibu mengatakan bahwa penyakit anaknya adalah penyakit karena bawaan lahir
c. Lingkungan Rumah
Ibu mengatakan lingkungan yang sehat adalh bersih dan rapi
d. Pemeriksaan saat ini
Anak dalam keadaan sadar ( compos mentis ), lemah, rewel dan gelisah.
Nadi : 120 x/ menit
Pernapasan : 30 x/ menit
Suhu :36,4 0c 

BAB IV PEMBAHASAN
Setelah menetapkan Asuhan Keperawatan pada an. S dengan gangguan System Pencernaan : Post Operasi Kolostomi a/I Atresia Ani di ruangan RB2A Bedah Anak Rumah Sakit HAM Medan, pada Bab ini penulis membahas kesenjangan antara landasan teori dan landasan kasus agar lebih terarah sehingga mencapai tujuan seoptimal mungkin.
Dalam pembahasan ini penulis menemukan beberapa kesenjangn antara tinjauan teoritis dan tinjauan kasus yang nyata dalam proses keperawatan mulai dari pengkajian , diagnose, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

4.1 PENGKAJIAN
Pada tahap ini penulis mendapat data yang nyata dengan cara melaksanakan komunikasi dengan keluarga pasien, mengobservasi keadaan pasien, melakukan pemeriksaan fisik, dan membaca dokumentasi pasien sehingga permasalahan yang mencakup bio psiko sosial dan spiritual dapat dikaji dan dapat dikumpulkan secara komprehensif.
Adapun kesenjangan yang terdapat pada tahap pengkajian antara tinajuan kasus dan tinajuan teoritis adalah :
1. Pada tinjauan teoritis ditemukan penkajian pada gastrointestinal dan integument sedangkan pada tinjauan kasus dilakukan pengkajian riwyat kelahiran, riwayat kesehatan, pertumbuhan dan perkembangan, pemeriksaan Head To Toe dan pola kebiasaan sehari-hari dan pengetahuan orang tua terhadap penyakit, sebab-sebab penyakit dan keadaan lingkungan rumah.

4.2 DIAGNOSA
Pada tinjauan teoritis keperawatan ditemukan beberapa diagnose, yaitu :
1. Resiko tinggi kekurangan  volume cairan
2. Nyeri
3. Resiko tinggi infeksi
4. Perubhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
5. Kerusakan integritas kulit
6. Perubahan pola eliminasi : Diare/konstipasi
Sedangkan pada kasus hanya ditemukan 3 diagnosa, yaitu :
1. Nyeri
2. Kerusakan integitas kulit
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

4.3 PERENCANAAN
Intervensi yang ada pada teori tetapi tidak terdapat pada kasus :
1. Mengajarkan pada pasien teknik napas dalam karena pasien adalah anak dengan usia 6 bulan.
2. Mengidentifikasi makanan kesukaan dan makanan yang tidak disukai anak karena dietnya hanya ASI
3. Menganjurkan pasien untuk melakukan posisi duduk tinggi/posisi semi fowler dan menghindari duduk terlalu lama Karena pasien adalah anak yang berusia 6 bulan yang belum mampu untuk duduk sendiri.
 4.  Dorong pasien untuk mengatakan masalah.Mendengarkan dengan aktif dan memberika dukungan dengan penerimaan mengingat pasien dan memberikan informasi yang tepat. Karena pasien belum mampu untuk berbicara.
            Sedangkan intervensi yang ditemukan pada kasus tetapi tidak ditemikan pada teori adalah :
1. Menganjurkan kepada keluarga untuk mengontrol aktivitas pasien. Hal ini dilakukan karena melihat pasien adalah seorang anak yang gelisah dan belum mampu mengerti akan keadaannya yang masih baru selesai operasi.

4.4 PELAKSANAAN
   Pada tahap pelaksanaan keperawata penulis tidak banyak menemukan kesulitan karena keluarga pasien mau bekerja sama dengan penulis sehingga semua pertanyaan yang disampaikan oleh penulis dijawab dengan baik oleh keluarga pasien sehingga memudahkan penulis unutk mendapatkan informasi tentang penyakit pasien.

4.5 EVALUASI
    Pada tahap ini penulis akan membahas kesenjangan antara kasus dan teori. Pada dasarnya perawatan yang dilakukan terhadap pasien ditekankan secara efektif, professional, dapat menjalankan terapi engan keadaan fisik yang baik dan kondisi yang baik pula. Pada tahap evaluasi tujuan yang tercapai hanya sebagian, karena setelah dilakukan evaluasi ditemukan :
1. Pada diagnose pertama yaitu :  “Nyeri” tujuan tercapai sebagian dengan criteria skala nyeri ringan, yaitu : 2
2. Pada diagnose ke 2 yaitu : “Kerusakan integritas kulit” tujuan tercapi sebagian dengan criteria kulit masih tampak kemerahan
3. Pada diagnose ke 3 yaitu : “perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh” tujuan tercapai sebagian dengan criteria berat badan anak masih 5,2 kg.

BAB V
PENUTUP

5.1 KESIMPULAN
1. Pada tahap pengkajian yang dikaji adalah riwayat kesehatan, riwayat kelahiran , riwayat nutrisi dan pola kebiasaan pasien yang mana semua data yang ada pada pengkajian didapatkan dari keluarga pasien karena pasien belum mampu untuk berbicara.
2. Dari data yang diperoleh pada pengkajian maka didapat beberapa masalah yang menjadi diagnose keparawatan yaitu :
- Nyeri
- Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
- Kerusakan integritas kulit
3. Pada tahap perencanaan difokuskan pada penanggulangan nyeri, perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh dan kerusakan integritas kulit karena ketig masalah tersebut yang paling tampak pada pasien.
4. Pada tahap implementasi penulis tidak mendapatkan  kesulitan karena keluarga pasien kooperatif dan mau bekerjasama dengan penulis.
5. Pada tahap evaluasi tujuan yang tercpai hanya sebagian karena implementasi yang dilakukan hanya dalam batas waktu 3 hari sehingga terlalu singkat untuk mencapai tujuan dan dianjurkan kepada keluarga unutk tetap melanjutkan implementasi yang telah dilakukan oleh penulis.

5.2 SARAN
1. Keluarga
            Setelah menetapkan Asuhan Keperawatan pada an. S dengan gangguan System Pencernaan : Post Operasi Kolostomi a/i Atresia Ani di ruangan RB2A Bedah Anak Rumah Sakit HAM Medan, maka penulis menyaran kan keda keluarga pasien unutk tetap melakukan control tehadap operasi yang dilakukan pada anak, memperhatikan nutrisi anak karena nutrisi yang baik membantu mempercepat penyembuhan dan memberikan kekebalan tubuh anak, tetap memperhatikan penggantian kantong kolostomi bila sudah penuh dan menjaga kebersihan untuk meminimalkan terjadinya infeksi.

2. Penulis
     Disarankan kepada penulis agar lebih banyak lagi mencapai referensi tentang Asuhan Keperawatan Pada Anak  dengan gangguan System Pencernaan : Post Operasi Kolostomi a/i Atresia Ani sehingga lebih memperluas pengetahuan penuls tentang perawatan kolostomi terhadap anak.

DAFTAR PUSTAKA 
1. Sodikin, 2011, Asuhan Keperawatan Pada Anak Gangguan Sistem Gastrointestinal dan Heptobilier, Penerbit : Salemba Medika Jakarta
2. Sunadi, 2006, Asuhan Keperawatan Pada Anak, Sagung Seko, Jakarta
3. Doenges, Marilyn, 2002, Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta
4. Wong, Donna L, 2004, Keperawatan Pediatrik, EGC, Jakarta

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN 
1. Gangguan rasa nyaman  : nyeri b/d insisi pembedahan d/d ibu pasien mengatakan pasien tampak rewe, mudah menangis, klien tampak gelisah, rewel, terpasang kolostomi, ada bekas operasi di bagian abdomen sedelh kiri, adanya nyeri tekan, nadi :120 x/ menit, pernapasan : 30 x/menit, suhu : 36,7 C, skala nyeri 6.

2. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d kurangnya asupan nutrisi d/d ibu pasien mengatakan ananknya tampak lemah, pasien tampak lemah, bising usus 24 x/menit, BB sebelum masuk RS 6 kg, sesudah masuk RS 4 kg.

3. Kerusakan integritas kulit b/d pembuatan stoma d/d ibu asien mengatakan kulit sekitar bekas operasi di perut anaknya tampak kemerahan, kulit tampak kemerahan, integritas kulit buruk, adanya stoma.

3. PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN 
1. Gangguan rasa nyaman  : nyeri b/d insisi pembedahan d/d ibu pasien mengatakan pasien tampak rewe, mudah menangis, klien tampak gelisah, rewel, terpasang kolostomi, ada bekas operasi di bagian abdomen sedelh kiri, adanya nyeri tekan, nadi :120 x/ menit, pernapasan : 30 x/menit, suhu : 36,7 C, skala nyeri 6.

2. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d kurangnya asupan nutrisi d/d ibu pasien mengatakan ananknya tampak lemah, pasien tampak lemah, bising usus 24 x/menit, BB sebelum masuk RS 6 kg, sesudah masuk RS 4 kg.

3. Kerusakan integritas kulit b/d pembuatan stoma d/d ibu asien mengatakan kulit sekitar bekas operasi di perut anaknya tampak kemerahan, kulit tampak kemerahan, integritas kulit buruk, adanya stoma.